Serunya Acara Permainan Tradisional di Mataram Culture Festival 2 – Malioboro – Jogjakarta

oleh | Jul 18, 2017 | Lomba, Malioboro, Mataram Culture Festival 2 | 18 Komentar

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 15 Juli 2017, ada pemandangan yang tak biasa di kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta. Jika biasanya aktivitas yang dilakukan para pengunjung hanya duduk duduk, jalan jalan, wisata kuliner, ataupun berfoto foto, maka hari itu ada yang beda. Yaitu karena di Jl. Malioboro ada pertunjukan permainan tradisional yang di mainkan oleh beberapa kelompok anak anak yang merupakan bagian dari acara Mataram Culture Festival 2.

Nah, karena alasan itulah, saya sengaja datang dari Kebumen ke Malioboro hanya untuk menyaksikan acara ini. Walaupun jauh tapi tidak menyurutkan semangat saya untuk datang.

Butuh perjuangan untuk sampai kesini. Dari rumah saya berangkat jam 06.00 dan sampai area Malioboro jam 09.30. Namun jam 11.00 baru ketemu tempat ini. Itu karena saya tersesat, bahkan sampai masuk ke gang gang, pusing banget pokonya karena muter muter gak karuan.

Tapi karena tersesat, saya jadi bisa menyaksikan pertunjukan angklung Jogja di lampu merah yang biasanya hanya saya tonton lewat youtube. Saya kasih uang lalu saya rekam videonya, cukup menghibur di kala bingung mencari alamat.

Setelah ketemu, akhirnya saya masuk ke kantor Dinpar DIY karena acara dimulai dari sini. Selain bertujuan untuk merevitalisasi ruang publik dan ekspresi kota, acara ini juga diharapkan mampu menjadi daya tarik interaktif kepada wisatawan. Dan seperti apa sih permainan permainan tradisional ini, berikut reportase saya.

EGRANG dan BATHOK

Egrang adalah permainan tradisional yang terbuat dari bambu yang pada bagian bawahnya dipasang pijakan sebagai alas kaki. Pemain yang akan memainkan alat ini harus bisa menggunakan egrang terlebih dahulu agar lebih mudah untuk berjalan. Karena jika tidak maka akan mudah terjatuh.

Di acara Mataram Culture Festival 2 kemarin, anak anak pemain egrang mengenakan kaos khas Jogja dan blangkon untuk yang laki laki. Sementara yang perempuan mengenakan baju lurik dan celana panjang dan jarik batik. Mereka dengan lincahnya jalan jalan menggunakan egrang sambil berputar putar. Bahkan ada seorang bule yang juga ikut memainkan egrang ini.

Untuk permainan bathok juga hampir mirip dengan egrang, namun pijakan kakinya terbuat dari belahan tempurung kelapa (bathok) sebagai tumpuannya, dan kendali yang digunakan untuk membantu menjalankanya yaitu tali. Anak anak yang kemarin memainkanya pun begitu mahir. Kalau dimainkan bunyinya prok prok prok prok gitu. Berikut dibawah adalah  video dari permainan ini.

LOMPAT BAMBU

Permainan ini di awali dengan hompimpa, yang menang yang main sementara yang kalah yang menggerak gerakan bambu. Jika yang main nanti kakinya ada yang terjepit, maka gantian dengan yang menggerakan bambu. Permainan ini membutuhkan konsentrasi bagaimana caranya agar tidak kejepit, unik banget pokonya. Boleh coba dirumah. Berikut dibawah adalah  foto dan video dari permainan ini.

ANCAK ANCAK ALIS

Kalau di tempat saya, nama lain dari permainan ancak ancak alis yaitu slebur dan dengan lirik yang berbeda. Dan di Jogja ini, penggalan lirik lagunya kalau tidak salah begini :

Ancak ancak alis
Si alis kebo janggitan
Anak-anak keb dhungkul
Si dhungkul kapan gawene

Permainan ini beranggotan beberapa orang, namun lebih banyak pesertanya maka permainan akan semakin seru. Model dari permainan ini yaitu menggunakan konsep petani yang membentuk dua kelompok, misal kelompok padi dan ketela. Masing masing kelompok harus di ketuai oleh seorang yang memiliki ukuran tubuh yang tinggi, besar, dan kekuatan yang setara. Kemudian kedua tangan antara kepala kelompok saling menyentuh dan diangkat membentuk gapura. Sementara pemain lainya berada di belakang masing masing kelompok dan membentuk ular.

Setelah itu semua pemain menyanyikan lagu diatas. Dan pada lirik terakhir, kedua kepala kelompok menyikep pemain yang berada di posisi lagu terakhir dan membisik bisiki untuk menjadi anggotanya. Kelompok yang paling banyak mendapatkan anggota maka ia yang menang. Namun penetuan pemenang juga bisa dilakukan dengan ered eredan (tarik tarikan) seperti tarik tambang, dan yang paling banyak mendapatkan anggota, maka kelompoknya yang menang. Kalau kemaren sih di akhiri dengan ered eredan, orang orang sampai tertawa melihatnya. Selengkapnya bisa di lihat pada foto dan video dibawah ini.

JAMURAN

Baru kali ini saya melihat permainan ini, namanya permainnya yaitu jamuran. Jenis permainan ini di awali dengan hompimpa. Kemudian yang kalah berada ditengah sementara yang menang mengitarinya sambil menyanyikan lagu seperti ini :

Jamuran.. jamuran ya ge ge thok
jamur apa ya ge ge thok
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung
sira badhe jamur apa?

Kemaren yang kalah menyebut jamur kethek menek (kera manjat pohon), sehingga anggota yang mengitarinya seketika langsung mematung seperti kera sedang memanjat pohon dengan berbagai gaya. Namun mereka tidak boleh tertawa walau di goda. Jika ada yang tertawa maka ia kalah dan menggantikan posisi yang kalah untuk berada di tengah. Jika yang kalah lebih dari satu maka pingsut. Kemaren yang mematung seperti kera akhirnya ada yang tertawa, sehingga kalah dan berganti posisi untuk berada di tengah. Unik banget pokonya. Selengkapnya bisa di lihat pada foto dan video dibawah ini.

LOMPAT TALI

Untuk lompat tali ini sepertinya semua sudah kenal. Jadi dua orang pemain memegangi tali, dan pemain lainya yang melompat. Nanti jika pemain yang melompat menyentuh tali, maka ia akan DIS atau mati dan berganti dengan pemain yang lainya. Berikut dibawah adalah foto foto dan video dari permainan ini.

INDAHNYA MALIOBORO JOGJAKARTA

Berkunjung ke Malioboro tidak lengkap rasanya jika tidak berpose di tiang penunjuk jalanya. Foto di spot ini bisa menjadi bukti afdhol kalau kita sudah berkunjung ke Jogjakarta, iya enggak ? Dan bagi saya, ada kebanggaan tersendiri bisa berkunjung ke Jogjakarta, mungkin karena keramahan penduduknya terhadap pengunjung.

Puas berwisata, saya pun membeli oleh oleh khas Jogjakarta. Kemarin saya beli souvenir seperti gantungan kunci, dan juga mainan anak anak untuk keponakan saya yang masih balita. Oiya, saya juga beli blangkon lho, belum afdhol rasanya kalau ke Jogja belum beli blangkon. Murah banget lho, 20 ribu rupiah saja sudah dapat.

Dan terakhir saya juga menikmati wisata kulinernya, apalagi kalau bukan gudeg Jogja, dimakanya di pinggiran Jl. Malioboro, wah maknyus tenan pokonya.

Nah, itulah pengalaman saya kemarin waktu menyaksikan acara Mataram Culture Festival 2 di Malioboro Jogjakarta, menarik bukan ? semoga bisa menjadi next destination Anda selanjutnya 😀