Pilih Laman

Berbagi Pengalaman Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Beberapa bulan yang lalu, saya hampiiiiir saja membeli barang yang salah. Barang tersebut yaitu kamera pocket yang sebenarnya kurang sesuai dengan kebutuhan saya saat itu. Harganya pun lumayan, 4 juta rupiah. 

Alasan saya ingin membeli kamera tersebut yaitu karena layar kameranya bisa di putar ke depan, sehingga bisa digunakan untuk berselfie. Selain itu, waktu itu saya juga lagi kepengin kepenginnya bikin vlog, jadi saya butuh kamera yang memiliki fitur kamera depannya. 

Eh tapi ternyata saya ini blogger yang sukanya nulis nulis, bukan vlogger yang suka bikin vlog. Dan kalau untuk keinginan bikin vlog, itu hanya keinginan sesaat saja. 

Dan sebenernya dari lubuk hati yang paling dalam, saya ini dari awal sudah kepengin sekali belajar fotografi, bukan vlog, dan kamera yang sebenanya saya butuhkan yaitu kamera digital, bukan kamera untuk bikin vlog. 

Kamera yang saya beli dengan riset mendalam. Dokpri

Dan beruntunglah karena pada akhirnya, saya membeli kamera berdasarkan kebutuhan saya saat itu, yaitu belajar fotografi, harganya lebih pun lebih murah, yaitu 2.8 juta. Jadi sampai sekarang, saya bisa belajar fotografi dengan kamera tersebut. Lihat gambar diatas. 

Seandainya dulu saya membeli kamera hanya karena keinginan sesaat yaitu ingin membuat vlog, pasti saya menyesal dan rugi besar. Ya soalnya saya gak butuh butuh amat dengan kamera vlog tersebut.

Sebelum membeli kamera ini, saya banyak sekali melakukan riset, terutama lewat youtube. Yang saya butuhkan yaitu bagaimana memiliki kamera yang jepretanya jelas, bisa menghasilkan efek bokeh, zoomnya jauh, harganya terjangkau, dan lain sebagianya. Intinya sesuai kebutuhan saya. Saya juga mempelajari seperti apa pengaturanya, ukuran bodinya, ada wifinya atau tidak, dan lain lainya.

Setelah semua saya telusuri, akhirnya saya pun memutuskan membeli kamera tersebut yang akhirnya sesuai dengan keinginan awal saya, yaitu belajar fotografi. Dan saya pun puas karena ternyata inilah kamera yang saya impi impikan, bukan kamera vlog karena sebenarnya saya tak suka bikin vlog.

Ilustrasi teliti sebelum membeli. Agar kita tidak meyesal nantinya. Dok : ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Oiya, kamera ini saya beli secara online. Sebelum membelinya, saya juga banyak melakukan perbandingan harga, karena sekarang kan banyak sekali website pembanding harga. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada salah satu penjual di toko online Bukalapak. Karena setelah saya telusuri sampai habis, penjual tersebut memiliki rating dan testimoni yang cukup bagus, feedbacknya banyak, yang beli kamera ini juga banyak, pedagangnya premium, dan harganya pun terbilang murah dibanding penjual lainya. 

Untuk pengirimanya, saya juga memilih kurir yang menurut saya paling baik pelayananya karena sudah terbiasa ke rumah saya. Sebelum memutuskan untuk mengklik tombol beli, saya membaca deskripsinya dengan seksama dan teliti, agar saya tahu seperti apa kelengkapan, bonus, fitur, dan lain sebagainya, yang ada dalam box kamera tersebut.

Kemudian saya juga mencari tahu apakah ada kode voucher agar saya mendapat diskon. Dan ternyata ada, dan saya pun menggunakanya, sehingga saya bisa membayar dengan harga yang lebih murah walau hanya beberapa puluh ribu.

Pelapak tempat saya membeli kamera merupakan pelapak premium yang banyak di rekomendasikan pembeli. Dokpri

Oiya, karena ini barang elektronik, saya juga mencari tahu packing apa yang akan di gunakan. Apakah paking kayu atau cuma kardus biasa ? Karena kan kalo paking kayu lebih kuat dan aman. Namun sayang karena ternyata bukan paking kayu, dan waktu beli tidak saya asuransikan. Harusnya di asuransikan agar lebih aman.

Setelah barang sampai di rumah, saya pun membuka bungkusnya dengan hati hati. Sebagai konsumen cerdas memang kudu hati hati dong, apalagi karena barang ini saya beli secara online.

Saat membuka bungkusnya, saya juga sangat hati hati sekali, khawatir dusnya kena lalu sobek. Kan sayang misal barang nantinya mau di garansikan. Setelah saya buka, saya cek lagi seperti apa kelengkapannya sesuai deskripsi di toko onlinenya. Pokonya saya sangat teliti waktu itu. 

Ikon konsumen cerdas di lambangkan dengan seekor kancil yang cerdik dan cerdas. Dok. https://twitter.com/Kemdikbud_RI

Saya cocokan apakah bonus bonusnya sesuai dengan yang di tulis di deskripsinya, kemudian kartu garansinya beserta cara klaimnya, dan yang paling utama yaitu fungsi kameranya. Intinya semuanya saya periksa dan gak ada yang terlewat. 

Karena baru pertama kali memiliki kamera dan saya masih belum paham betul bagaimana menggunakanya, sayapun membaca buku panduannya. Setelah semuanya cocok dan kamera berfungsi dengan baik, saya baru bisa memberikan rating ke penjual di toko onlinenya.

Rating ini juga tak asal rating kasih bintang begitu saja, tapi sesuai dengan pelayanan dan kualitas produk yang diberikan. Karena pelayanan yang cukup bagus, pengirimanya cepat, barang berfungsi dengan baik, serta sesuai deskripsi sehingga saya puas, maka saya pun tak segan memberikanya nilai 4 dari 5 poin. Seandainya kirimnya pakai packing kayu, mungkin akan saya kasih rating 5. Selain itu saya juga memberikan ulasan terkait produknya agar pembeli lain tahu kalau saya puas belanja disitu.

Rating ini sangat membantu konsumen lainya saat akan membeli kamera tersebut. Sebagai konsumen yang cerdas, saya sadar bahwa memberikan hal yang sejujur jujurnya adalah penting bagi kelangsungan pemilik sebuah usaha. Dan hal itu saya lakukan setelah saya membeli sebuah barang secara digital atau online. Oiya, dibawah ini juga saya sertakan infografis tips cermat menjadi konsumen cerdas saat belanja online.

Motivasi Pintar

Tips konsumen cerdas saat belanja online

Teliti sebelum membeli

Pilih paking kayu untuk barang elektronik

Gunakan asuransi untuk barang elektronik

Pilih kurir terbaik

Buka barang dengan hati hati

Berikan rating sesuai layanan

1

Membeli barang yang benar benar di butuhkan

2

Riset lewat artikel atau video di youtube

3

4

5

6

7

8

9

10

Pilih toko online yang ratingnya paling bagus

Lakukan perbandingan harga antara online dan offline

Untuk barang yang di beli secara offline pun, sebagai masyarakat digital, kita pun di tuntut cerdas dalam menjadi konsumen. Untuk kebutuhan internet saya setiap hari, selama kurang lebih 2 tahun, saya selalu membeli perdana internet secara online. Dan karena membeli secara online maka ada ongkos kirimnya (rata rata 25 ribu). Jika di kalikan 2 tahun (24 kali) maka hasilnya 600 ribu, wah sayang yah. 

Setiap bulan, saya menghabiskan sekitar 19 – 28 GB dengan biaya 120 – 180 ribu sudah termasuk ongkos kirim. Karena beli secara online, maka masa aktifnya pun berkurang karena terpotong hari pengiriman (antara 3 – 6 hari). Dari 30 hari menjadi 27 hari, bahkan 24 hari. Dan dalam kurun waktu 2 tahun, saya telah menyia nyiakan kuota hilang di jalan selama 36 – 72 hari, wah sayang sekali bukan. 

Konter hp tempat saya biasa membeli kuota. Dokpri

Nah, semenjak saya tahu jika ternyata di konter konter dekat saya tinggal juga banyak menjual kuota internet serupa, sekarang saya sudah jarang membeli secara online. Keuntunganya ya jelas saya mendapatkan harga lebih murah karena tidak di bebani ongkos kirim dan juga masa aktif yang lebih lama. Yaitu lebih hemat 600 ribu dan juga hemat kuota 36 – 72 hari. Dari sini bisa di ambil kesimpulan, bahwa kita juga perlu membandingkan produk yang dijual online dengan yang offline, agar bisa mendapatkan layanan dan harga terbaik. 

Untuk jasa online, saat ini saya juga berlangganan jasa hosting Indonesia. Mengapa ? karena ternyata jasa hosting website Indonesia juga tak kalah bagus dengan jasa luar negeri. Lagian dengan pengantar bahasa Indonesia, saya jadi lebih mudah dalam memahami setiap perintah yang ada.

Sebelum menggunakan jasa hosting ini, saya juga telah mencari cari sumber informasi di internet, seperti tentang testimoninya, layananya, dan lain sebagainya. Saya memilih jasa hosting ini karena terkenal dan banyak di rekomendasikan banyak orang, makanya saya percaya. Dan beruntunglah karena saat ini tidak ada kendala berarti. Ini menjadi bukti bahwa jasa dalam negeri memang tak kalah bagusnya dengan jasa luar negeri.

Hosting Indonesia yang saya pilih untuk blog saya, karena saya cinta buatan Indonesia. Dokpri

Selain jasa hosting, saya juga pernah menggunakan jasa transfer paypal ke seorang teman facebook. Walaupun kami belum pernah bertatap muka langsung, tapi kami sudah akrab karena kami sama sama blogger dan memiliki kesamaan hobi, sehingga kami pun jadi saling mendukung antara satu dengan yang lainya. Makanya saya saya percaya. Dan sayapun tak segan menggunakan jasanya. Berikut di sebelah kanan adalah sscreenshoot percakapan kami. 

Screenshoot percakapan kami saat saya akan membeli saldo paypal darinya. Dokpri

Sedangkan untuk jasa offline, seperti potong rambut atau barbershop misalnya. Saya mencari tukang cukur handal yang trampil dalam memotong rambut. Jadi, seringkali saya kurang puas dengan hasil potongan rambut di tukang cukur biasa karena kurang rapih dan kurang trampil. Sedangkan kalau tanya tanya ke temen temen dimana tukang cukur yang pintar, jawabanya juga enggak mesti akurat.   

Nah, sebagai konsumen cerdas, saya memanfaatkan google map untuk mencari tukang cukur yang trampil dalam memotong rambut. Dari hasil pencarian di google map, saya menemukan salah satu barbershop yang memiliki rating cukup bagus dan lokasinya pun tak terlalu jauh, dan saya pun berhasil mendapatkan potongan rambut yang halus sesuai keinginan saya. 

Dan ternyata, tempatnya bersih, tukang cukurnya pun sabar dan hasil potongan rambutnya pun halus dan rapih banget. Gak apa apa bayarnya mahalan dikit, yang penting hati ini puas. Lihat foto cukuran rambut saya di sebelah kanan, rapih banget bukan, walaupun dalam keadaan tidak saya kasih minyak rambut pun tetep rapih. 

Berkaca dari pengalaman diatas, saya begitu sadar bahwa kita yang hidup di era digital di tuntut untuk menjadi konsumen yang cerdas, baik itu untuk produk/jasa yang di tawarkan secara online ataupun offline.

Saya sedang potong rambut di tukang cukur recomended. Hasilnya sangat memuaskan. Dokpri

Hal ini saya lakukan agar tidak terjadi miss communication atau terjadi kesalahan pada produk/jasa yang kita gunakan sehingga kita kecewa nantinya. Apalagi untuk produk/jasa yang di tawarkan secara online, kita tidak bisa melihat langsung seperti apa barang/jasa tersebut, makanya teliti sebelum membeli itu penting. Berkaitan dengan hal ini, saya juga akan berbagi tips bagaimana sih menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital. Berikut detailnya.

Untuk produk yang di beli secara online

1] Lakukan perbandingan harga terlebih dahulu, karena saat ini ada banyak sekali situs pembanding harga untuk mendapatkan harga terbaik.

2] Baca deskripsi produk secara seksama dan jangan sampai ada yang terlewat, agar nantinya barang yang kita beli sesuai dengan harapan kita.

3] Belilah produk dari seller atau penjual yang memiliki reputasi dan rating terbaik, sehingga kita lebih percaya jika nanti barang yang akan di terima pun akan sesuai keinginan.

4] Cari tahu cara penggunaan produk secara lebih detail, baik dalam artikel ataupun video, seperti saat saya membeli kamera.

5] Manfaatkan diskon atau kode voucher jika tersedia agar bisa mendapatkan potongan harga. Misalnya saat harbolnas. Tapi menurut artikel yang pernah saya baca di www.cnnindonesia.com, ada ecommerce yang sengaja menaikan harga puluhan kali lipat sebelum di kasih diskon, aliasnya itu adalah dikson palsu, yang sebenanya sedang menipu pelangganya dengan memanfaatkan moment harbolnas.  Jadi kudu teliti dan cermat ya saat berburu diskon saat harbolnas. Karena pastinya banyak juga e-commerce yang memberikan diskon besar yang sebenarnya. 

 

6] Untuk produk gadget atau elektronik, pastikan menggunakan packing kayu agar aman selama masa pengiriman. 

7] Gunakan asuransi pengiriman untuk gadget atau elektronik. Hal ini di maksudkan untuk mengantisipasi jika terjadi suatu resiko saat pengiriman.

8] Setelah produk sampai, periksa kelengkapan sesuai deskripsi di lapak penjualnya, apakah sesuai atau tidak, apakah produk bisa berfungsi normal atau tidak, dan lain sebagainya

9] Buka box dengan hati hati, periksa kartu garansi dan buku panduanya, pelajari cara klaim garansi jika terjadi sesuatu, dan lain sebagainya

10] Berikan rating di lapak penjualnya dengan jujur sesuai layanan yang di berikan agar pembeli lain ikut terbantu. Misal jika bener bener puas, bisa kasih rating 5 bintang. Namun jika kurang puas, bisa kasih 2 atau 3 bintang. Dan jika memberikan ulasan kekurang puasan, sampaikanlah dengan kalimat yang sopan agar bisa menjadi motivasi untuk penjualnya agar pelayanan bisa lebih di tingkatkan. 

Untuk produk yang di beli secara offline

1] Cari tahu terlebih dahulu kegunaan dan cara pemakaian produk baik dalam artikel ataupun video lewat akses internet

2] Bandingkan dengan harga yang ada di toko online, jika ternyata lebih murah di pasar offline, maka lebih baik membeli di pasar offline. Seperti saat saya membeli kuota internet. 

3] Periksa fungsi produk apakah berjalan normal atau tidak

4] Periksa garansi, cara klaim jika terjadi sesuatu, dan lain sebagainya. Misal seperti tambal gigi di dokter gigi. Menurut pengalaman, garansi yang di berikan yaitu 1 bulan. 

5] Untuk produk makanan, baiknya periksa tanggal kadaluarsanya. Jika sudah mendekati tanggal kadaluarsa baiknya jangan di gunakan untuk antisipasi keamanan. Dan pastikan ada logo halalnya untuk warga muslim.

Untuk jasa yang di beli secara online

1] Lakukan searching tentang testimony dari para pengguna jasa lainya. Agar bisa tahu seperti apa pelayanan atau servis yang di berikan oleh jasa tersebut. Contohnya seperti jasa hosting yang saya gunakan. 

2] Bandingkan dengan jasa serupa lainya, apakah pelayanannya lebih bagus atau tidak.

3] Bandingkan harganya dengan jasa lainya, apakah harga yang di tawarkan sesuai dengan layanan yang di berikan atau tidak

4] Cari tahu berapa lama garansi yang di berikan. Jika suatu saat jasa yang di gunakan tidak berjalan dengan baik selama masa garansi, maka pengguna jasa bisa melakukan klaim garansi. Contohnya seperti jasa pembuatan website.

Untuk jasa yang di beli secara offline

1] Bandingkan kualitas pelayananya, harganya, dengan jasa yang di berikan secara online. Jika ternyata lebih bagus secara offline, maka offline bisa menjadi pilihan. Contohnya untuk jasa cetak undangan pernikahan. Jika ternyata cetak offline lebih banyak memberikan kemudahan, maka cetak offline pun bisa menjadi pilihan. 

2] Cari tahu testimony tentang pelayanan yang di berikan untuk sebuah jasa offline. Misalnya untuk jasa tukang cukur atau barbershop seperti diatas. Cari tahu berapa rating pengguna atau testimony dari para penggunanya, jika ternyata baik, maka kita pun bisa menggunakanya.

Dan dari kesemua poin diatas, hal penting yang tak boleh di tinggalkan adalah dengan membeli produk atau jasa yang benar benar di butuhkan, bukan yang di inginkan. Seperti saat saya membeli kamera. Produk berlabel SNI dan juga produk dalam negeri juga menjadi rekomendasi untuk di pilih.

Produk berlabel SNI akan memberikan kita jaminan kepastian atas kesehatan, keamanan dan keselamatan konsumen, bahkan lingkungannya (K3L). Contohnya seperti helm. Dan dengan membeli produk dalam negeri, berarti kita telah mendukung para pengusaha di Indonesia untuk terus berkarya. Dan itu berarti perkembangan perekenomian di Indonesia pun akan terus meningkat.

Ingat ya, menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital itu penting. Karena konsumen yang cerdas merupakan salah satu faktor penentu perekonomian Indonesia. Dengan bangga memakai produk dalam negeri, maka dana lebih banyak masuk ke pelaku pelaku usaha dalam negeri hingga kemakmuran dan kesejahteraan pun dapat di capai.

Untuk tahu lebih banyak banyak tentang konsumen cerdas, silahkan buka link harkonas.id atau bisa juga di alamat www.harkonas.id/koncer.php. Oiya, follow juga sosial medianya pada tombol di bawah untuk informasi terbaru harkonas. Terimakasih sudah membaca sampai akhir. Salam konsumen cerdas di era digital. 

Helm berlogo SNI aman digunakan. Dokpri

Note : semua produk atau jasa yang saya tuliskan diatas adalah milik masing yang dalam konteks ini hanya berfungsi sebagai objek saya sebagai konsumen cerdas dan tidak mencerminkan atau bermaksud untuk promosi apapun.